Memiliki toko online sendiri kini semakin penting bagi bisnis yang ingin berkembang di era digital. Marketplace seperti Shopee, Tokopedia, TikTok Shop, dan platform lainnya memang membantu penjual mendapatkan pelanggan dengan lebih mudah. Namun, ketika seluruh penjualan hanya bergantung pada marketplace, bisnis juga harus menghadapi berbagai biaya, program promosi, aturan platform, risiko retur, dan perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi keuntungan.

Marketplace Memang Membantu, Tetapi Ada Biaya yang Perlu Dihitung
Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa marketplace memberikan banyak kemudahan.
Penjual tidak perlu membangun sistem dari awal. Marketplace sudah menyediakan katalog, keranjang belanja, pembayaran, pengiriman, promosi, hingga berbagai fitur untuk membantu penjualan.
Tetapi kemudahan tersebut bukan berarti seluruh transaksi bebas biaya.
Sebagai contoh, ketentuan resmi Shopee saat ini mencantumkan biaya administrasi penjual yang berbeda berdasarkan kategori dan status penjual. Untuk penjual Non-Star, persentase yang tercantum dalam ketentuan terbaru berada pada rentang 2,50% hingga 10%, tergantung kategori produk. Shopee juga mencantumkan biaya proses pesanan sebesar Rp1.250 per transaksi selesai untuk ketentuan yang berlaku.
Selain itu, program tertentu juga dapat memiliki biaya layanan tersendiri.
Misalnya, program Gratis Ongkir XTRA memiliki biaya layanan yang dihitung berdasarkan harga produk setelah potongan atau voucher tertentu dan persentase sesuai kategori. Biaya tersebut berada di luar biaya administrasi penjual.
Artinya, penjual perlu melihat keuntungan bersih, bukan hanya omzet.
Omzet Besar Belum Tentu Keuntungan Besar
Bayangkan sebuah produk dijual seharga Rp200.000.
Sekilas, angka tersebut terlihat sebagai pendapatan Rp200.000.
Namun dalam bisnis sebenarnya masih ada banyak komponen yang harus diperhitungkan.
Misalnya:
- Harga modal produk
- Biaya marketplace
- Biaya program promosi
- Biaya iklan
- Biaya kemasan
- Biaya operasional
- Biaya retur
- Pajak jika berlaku
Setelah semuanya dihitung, keuntungan bersih tentu berbeda dari angka penjualan yang terlihat di dashboard.
Karena itu, semakin besar volume transaksi, semakin penting bagi pemilik bisnis memahami struktur biaya secara keseluruhan.
Program Promo Memang Bisa Meningkatkan Penjualan
Promo bukan sesuatu yang buruk.
Justru program promosi dapat membantu produk mendapatkan perhatian lebih besar.
Masalahnya adalah ketika penjual terlalu bergantung pada promo untuk mendapatkan transaksi.
Diskon, voucher, gratis ongkir, affiliate, dan iklan memang dapat membantu meningkatkan penjualan.
Tetapi setiap program harus dihitung berdasarkan hasil akhirnya.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Berapa banyak produk yang terjual?”
Tetapi:
“Berapa keuntungan bersih yang tersisa setelah semua biaya diperhitungkan?”
Cara berpikir seperti ini penting bagi UMKM yang ingin berkembang.
Bagaimana dengan Retur Barang?
Retur juga menjadi bagian yang harus diperhatikan dalam bisnis e-commerce.
Namun, kita perlu memahami bahwa tidak semua retur otomatis membuat penjual menanggung seluruh ongkos kirim.
Dalam program Garansi Bebas Pengembalian Shopee, misalnya, Shopee menyatakan bahwa biaya pengiriman awal dan pengembalian dapat ditanggung Shopee selama penjual memenuhi ketentuan program. Namun terdapat kondisi tertentu, termasuk pengembalian yang disebabkan oleh kelalaian penjual, yang memiliki perlakuan berbeda.
Jadi, daripada mengatakan semua retur pasti menjadi beban penjual, lebih tepat jika bisnis memahami:
retur adalah salah satu risiko operasional yang harus diperhitungkan.
Selain ongkos kirim, retur juga dapat menimbulkan pekerjaan tambahan.
Barang perlu diperiksa.
Stok perlu diperbarui.
Produk mungkin perlu dikemas kembali.
Dan dalam kondisi tertentu, produk yang dikembalikan mungkin tidak dapat langsung dijual kembali.
Semua hal tersebut memiliki dampak terhadap operasional bisnis.
Bagaimana dengan Pajak Marketplace?
Ini juga perlu dibedakan.
Biaya marketplace dan pajak bukan hal yang sama.
Pemerintah melalui PMK 37 Tahun 2025 mengatur mekanisme pemungutan PPh Pasal 22 melalui marketplace untuk pedagang dalam negeri yang memenuhi kriteria.
DJP menjelaskan bahwa kebijakan tersebut bukan jenis pajak baru, melainkan perubahan mekanisme pemungutan pajak melalui marketplace.
Untuk ketentuan yang berlaku, pemungutan PPh Pasal 22 tersebut menggunakan tarif 0,5% dari nilai bruto transaksi dengan ketentuan dan pengecualian tertentu.
Namun ada perkembangan terbaru yang juga perlu diperhatikan.
DJP mengumumkan bahwa pemberlakuan pemungutan PPh Pasal 22 melalui marketplace ditunda sampai 31 Oktober 2026, dan dijadwalkan mulai berlaku kembali pada 1 November 2026.
Jadi, pemilik bisnis sebaiknya selalu memeriksa aturan terbaru sebelum membuat perhitungan keuangan.
Masalah Terbesarnya Bukan Marketplace
Sampai di sini mungkin muncul pertanyaan:
“Kalau marketplace memang membantu, lalu apa masalahnya?”
Jawabannya bukan marketplace.
Masalahnya adalah ketergantungan sepenuhnya pada marketplace.
Bayangkan seluruh penjualan bisnis Anda berasal dari satu platform.
Anda sudah memiliki ratusan produk.
Sudah memiliki banyak transaksi.
Sudah memiliki pelanggan.
Tetapi kemudian terjadi perubahan pada:
- Biaya layanan
- Algoritma
- Program promosi
- Sistem iklan
- Aturan penjual
- Kebijakan retur
- Persyaratan akun
Bisnis Anda harus kembali beradaptasi.
Bukan karena produk Anda berubah.
Tetapi karena platform tempat Anda berjualan berubah.
Di sinilah pentingnya memiliki saluran penjualan sendiri.
Mengapa Toko Online Sendiri Penting untuk Bisnis?
Toko online sendiri memberikan ruang yang lebih besar bagi bisnis untuk membangun identitas dan pengalaman pelanggan.
Website dapat menjadi pusat digital yang menghubungkan berbagai aktivitas bisnis.
Misalnya:
Media sosial
↓
Mendatangkan pengunjung
Marketplace
↓
Mendapatkan transaksi
↓
Berkomunikasi dengan pelanggan
Website
↓
Membangun brand dan aset digital
Dengan sistem seperti ini, bisnis tidak hanya memiliki satu pintu untuk mendapatkan pelanggan.
Toko Online Sendiri Memberikan Kontrol Lebih Besar
Ketika menggunakan website sendiri, pemilik bisnis dapat menentukan bagaimana toko ditampilkan.
Anda dapat menentukan:
- Warna brand
- Logo
- Layout
- Kategori
- Banner
- Produk unggulan
- Promo
- Artikel
- Informasi bisnis
Website tidak harus terlihat seperti toko milik orang lain.
Website dapat dibuat sesuai karakter brand.
Hal ini sangat penting bagi bisnis yang ingin membangun identitas dalam jangka panjang.
Bangun Brand, Bukan Sekadar Menjual Produk
Persaingan di marketplace sering membuat produk dibandingkan berdasarkan harga.
Calon pelanggan dapat melihat banyak produk serupa hanya dalam beberapa detik.
Akibatnya, persaingan harga menjadi semakin kuat.
Toko online sendiri memberikan ruang yang lebih besar untuk membangun cerita mengenai brand.
Anda dapat menjelaskan:
Siapa Anda
Ceritakan bagaimana bisnis dimulai.
Apa yang Anda Jual
Jelaskan produk dan keunggulannya.
Mengapa Produk Anda Berbeda
Tunjukkan kualitas, desain, bahan, atau pelayanan.
Mengapa Pelanggan Harus Percaya
Tampilkan testimoni, portofolio, informasi bisnis, dan berbagai bukti pendukung.
Dengan demikian, pelanggan tidak hanya melihat harga.
Mereka mulai mengenal brand.
Website Dapat Menjadi Aset Digital Bisnis
Ada perbedaan penting antara berjualan melalui platform dan memiliki aset digital sendiri.
Marketplace adalah salah satu kanal penjualan.
Media sosial adalah kanal komunikasi dan pemasaran.
Sedangkan website dapat menjadi salah satu aset digital yang dibangun dan dikembangkan sesuai kebutuhan bisnis.
Website dapat berisi:
- Katalog produk
- Informasi brand
- Artikel
- Promo
- Testimoni
- Informasi pembayaran
- Informasi pengiriman
- Kontak bisnis
Seiring pertumbuhan bisnis, website juga dapat dikembangkan dengan berbagai fitur tambahan.
Toko Online Sendiri Tidak Berarti Harus Meninggalkan Marketplace
Ini bagian yang sangat penting.
Memiliki toko online sendiri bukan berarti Anda harus berhenti berjualan di marketplace.
Justru strategi yang lebih masuk akal adalah menggunakan keduanya.
Marketplace tetap dapat digunakan untuk mendapatkan jangkauan dan pelanggan baru.
Website digunakan untuk membangun brand dan aset digital.
Media sosial digunakan untuk membangun audience.
WhatsApp digunakan untuk komunikasi.
Dengan begitu, bisnis memiliki beberapa saluran yang saling mendukung.
Bagaimana dengan Biaya Membuat Toko Online?
Sebagian pemilik UMKM masih menganggap website toko online pasti mahal.
Padahal website dapat dibuat secara bertahap.
Tidak semua bisnis membutuhkan sistem yang sangat kompleks sejak hari pertama.
Untuk tahap awal, website dapat memiliki:
- Beranda
- Katalog produk
- Detail produk
- Keranjang
- Checkout
- Informasi pembayaran
- Informasi pengiriman
- Artikel
- Kontak
Ketika bisnis berkembang, fitur dapat ditambahkan.
Misalnya:
- Payment gateway
- Kupon
- Membership
- Manajemen stok
- Laporan penjualan
- Integrasi ekspedisi
- Otomatisasi WhatsApp
- Analitik
- Email marketing
Dengan pendekatan tersebut, website dapat berkembang mengikuti kebutuhan bisnis.
Jangan Hanya Menghitung Biaya Website
Pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan bukan hanya:
“Berapa harga membuat website?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang bisa saya bangun dengan website tersebut?”
Website yang tidak pernah digunakan memang hanya menjadi biaya.
Tetapi website yang digunakan untuk mendatangkan pengunjung, membangun brand, menampilkan produk, memberikan informasi, menerima pesanan, dan mendukung pemasaran dapat menjadi bagian dari aset bisnis.
Karena itu, website harus dipandang sebagai alat untuk membangun bisnis, bukan sekadar halaman internet.
Toko Online Sendiri Membantu Bisnis Lebih Mandiri
Bisnis yang memiliki beberapa kanal penjualan memiliki pilihan lebih banyak.
Jika traffic dari media sosial turun, website tetap dapat dikembangkan melalui SEO.
Jika biaya marketplace berubah, website tetap menjadi saluran alternatif.
Jika pelanggan menemukan bisnis melalui Google, mereka dapat diarahkan ke website.
Jika pelanggan ingin bertanya, mereka dapat diarahkan ke WhatsApp.
Semakin banyak saluran yang dimiliki, semakin kecil risiko bisnis bergantung pada satu sumber saja.
Strategi yang Lebih Sehat: Marketplace + Website
Jadi, apakah marketplace harus ditinggalkan?
Tidak.
Marketplace tetap memiliki peran penting dalam ekosistem e-commerce.
Yang perlu dihindari adalah menempatkan seluruh bisnis pada satu platform.
Gunakan marketplace untuk:
Menjangkau pasar dan mendapatkan transaksi.
Gunakan media sosial untuk:
Membangun audience dan awareness.
Gunakan WhatsApp untuk:
Membangun komunikasi dengan pelanggan.
Gunakan website untuk:
Membangun brand dan aset digital bisnis.
Kombinasi tersebut memberikan bisnis fondasi yang lebih kuat.
Kapan Bisnis Sebaiknya Memiliki Toko Online Sendiri?
Tidak harus menunggu bisnis menjadi besar.
Jika bisnis sudah memiliki produk yang jelas, brand yang ingin dibangun, pelanggan yang mulai bertambah, atau keinginan untuk mengurangi ketergantungan pada marketplace, maka website sudah layak dipertimbangkan.
Terutama bagi:
- UMKM fashion
- Brand pakaian
- Toko kosmetik
- Toko elektronik
- Toko makanan
- Reseller
- Distributor
- Produk handmade
- Bisnis lokal
- Brand yang sedang berkembang
Website dapat dibangun terlebih dahulu secara sederhana.
Kemudian dikembangkan sesuai kebutuhan.
Kesimpulan
Marketplace telah mengubah cara bisnis menjual produk secara online.
Platform tersebut memberikan banyak kemudahan dan membuka akses kepada pasar yang luas.
Karena itu, marketplace tidak perlu dianggap sebagai musuh.
Namun, bisnis juga perlu menyadari bahwa setiap platform memiliki biaya, aturan, program, dan kebijakan yang dapat berubah.
Itulah mengapa memiliki toko online sendiri merupakan langkah strategis untuk bisnis yang ingin membangun aset digital dalam jangka panjang.
Bukan untuk menggantikan marketplace.
Tetapi untuk mengurangi ketergantungan.
Bukan untuk berhenti menggunakan platform lain.
Tetapi untuk memiliki lebih banyak pilihan.
Dan bukan hanya untuk mendapatkan penjualan.
Tetapi untuk membangun brand, hubungan dengan pelanggan, dan aset digital bisnis sendiri.
Marketplace untuk menjangkau pasar.
Toko online sendiri untuk membangun bisnis.