Kenapa Seller yang Hanya Mengandalkan Marketplace Bisa Ketinggalan? Ini Alasan Toko Online Makin Penting

Toko online kini bukan lagi sekadar pelengkap bagi seller yang sudah berjualan di marketplace. Di tengah persaingan ecommerce yang semakin ramai, memiliki toko online sendiri dapat menjadi salah satu cara untuk membangun identitas bisnis, meningkatkan kepercayaan calon pelanggan, dan menciptakan jalur penjualan yang tidak sepenuhnya bergantung pada satu platform. Apalagi, aktivitas belanja digital di Indonesia terus berkembang dan semakin banyak konsumen menemukan produk melalui berbagai kanal online.

Data terbaru dari Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan bahwa nilai sektor ecommerce Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar US$71 miliar pada 2025, tumbuh lebih dari 14% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut tentu membuka peluang besar bagi seller. Namun, semakin besar pasar, semakin banyak pula pesaing yang masuk. Karena itu, seller tidak cukup hanya memiliki produk dan akun marketplace. Mereka juga perlu membangun aset digital yang dapat dikendalikan dan dikembangkan dalam jangka panjang.

Toko Online Bukan Sekadar Tempat Memajang Produk

Sebagian seller masih menganggap toko online hanya sebagai versi digital dari toko fisik.

Padahal, toko online dapat menjadi pusat dari seluruh aktivitas bisnis digital.

Di dalamnya, seller dapat menampilkan katalog produk, menjelaskan keunggulan barang, memberikan informasi mengenai bisnis, menampilkan testimoni pelanggan, menyediakan kontak, membuat halaman promosi, hingga mengarahkan pelanggan ke berbagai metode pembelian.

Dengan kata lain, toko online dapat menjadi rumah digital bagi sebuah brand.

Marketplace tetap bisa digunakan sebagai salah satu kanal penjualan, sementara toko online berfungsi sebagai pusat informasi dan identitas bisnis.

Pola seperti ini membuat seller tidak harus memilih antara marketplace atau toko online. Keduanya dapat digunakan secara bersamaan dengan fungsi yang berbeda.

Mengapa Toko Online Semakin Penting bagi Seller?

Pertumbuhan ecommerce Indonesia membuat konsumen semakin terbiasa melakukan aktivitas pembelian melalui internet.

Kementerian Perindustrian menyebut jumlah pengguna ecommerce Indonesia pada 2025 diproyeksikan mencapai 73,06 juta pengguna. Kementerian tersebut juga mengutip data Google, Temasek, dan Bain bahwa nilai transaksi ecommerce Indonesia pada 2025 mencapai sekitar Rp1.192,8 triliun atau US$71 miliar.

Di sisi lain, Google mencatat pertumbuhan video commerce Indonesia yang sangat cepat. Volume transaksi video commerce meningkat 90% secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi, sementara jumlah seller dan toko yang menggunakan video commerce meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perjalanan konsumen menuju pembelian semakin beragam.

Calon pelanggan bisa menemukan produk melalui video, media sosial, marketplace, mesin pencari, rekomendasi teman, atau konten creator.

Dalam kondisi seperti ini, memiliki toko online sendiri memberi seller tempat untuk mengumpulkan berbagai sumber traffic tersebut.

Toko Online Membantu Membangun Brand

Ketika seller hanya berjualan melalui marketplace, konsumen biasanya lebih banyak melihat identitas platform dibandingkan identitas bisnis.

Nama marketplace, desain halaman, sistem pencarian, rekomendasi produk, dan berbagai elemen platform menjadi bagian besar dari pengalaman pelanggan.

Toko online sendiri memberikan ruang yang lebih luas untuk membangun brand.

Seller dapat menentukan:

  • Nama dan identitas brand.
  • Logo.
  • Warna bisnis.
  • Foto produk.
  • Gaya komunikasi.
  • Cerita tentang bisnis.
  • Halaman tentang perusahaan.
  • Informasi kontak.
  • Testimoni pelanggan.
  • Konten edukasi.
  • Penawaran khusus.

Hal tersebut penting terutama bagi seller yang ingin berkembang dari sekadar “penjual produk” menjadi sebuah brand.

Konsumen bukan hanya membeli barang. Dalam banyak kategori, mereka juga membeli kepercayaan terhadap siapa yang menjual barang tersebut.

Toko Online Bisa Menjadi Pusat dari Media Sosial

Banyak seller aktif di TikTok, Instagram, Facebook, atau WhatsApp.

Namun, media sosial pada dasarnya dirancang sebagai platform komunikasi dan distribusi konten. Algoritma, fitur, dan aturan platform dapat berubah.

Karena itu, seller dapat menggunakan media sosial sebagai sumber traffic dan mengarahkan sebagian audiens ke toko online.

Contohnya sederhana.

Seller membuat video tentang sebuah produk di TikTok.

Orang yang tertarik kemudian mengunjungi profil seller.

Dari sana mereka dapat diarahkan ke toko online untuk melihat katalog yang lebih lengkap, membaca informasi produk, melihat testimoni, dan mengenal brand lebih jauh.

Dengan pola tersebut, media sosial menjadi mesin traffic, sedangkan toko online menjadi pusat informasi dan konversi.

Toko Online Membuat Bisnis Terlihat Lebih Profesional

Kesan profesional dapat menjadi faktor penting ketika calon pelanggan pertama kali mengenal sebuah bisnis.

Komdigi pada 2025 memperkenalkan strategi 3Go untuk membantu UMKM naik kelas, yang mencakup Go Modern, Go Digital, dan Go Online. Dalam penjelasannya, Go Online mencakup pemanfaatan media sosial, marketplace, hingga website untuk memperluas pasar. Komdigi juga menekankan bahwa informasi produk yang lengkap di website dapat membantu meningkatkan kepercayaan konsumen.

Ini menjadi alasan penting mengapa toko online tidak seharusnya hanya dipandang sebagai tempat transaksi.

Website dapat memberikan informasi yang mungkin tidak cukup tersedia di marketplace atau media sosial.

Seller dapat menjelaskan siapa mereka, apa yang mereka jual, bagaimana cara menghubungi mereka, dan mengapa pelanggan perlu mempercayai bisnis tersebut.

Toko Online Memberikan Ruang Lebih Besar untuk Konten

Marketplace biasanya memiliki struktur halaman produk yang relatif seragam.

Seller mengunggah foto, judul, deskripsi, harga, variasi, dan informasi pengiriman.

Sementara itu, toko online memberikan ruang yang jauh lebih fleksibel.

Seller dapat membuat artikel, panduan penggunaan produk, halaman FAQ, video, landing page, hingga konten edukasi.

Misalnya seller parfum dapat membuat artikel:

“Cara Memilih Parfum untuk Dipakai ke Kantor”

Seller fashion dapat membuat:

“Cara Memilih Ukuran Jaket yang Tepat Saat Belanja Online”

Seller makanan dapat membuat:

“Cara Menyimpan Produk Agar Tetap Segar”

Konten tersebut bukan hanya membantu pelanggan, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk baru dari mesin pencari.

Dengan demikian, toko online dapat berfungsi sebagai aset SEO yang terus dikembangkan.

Toko Online Membantu Seller Tidak Terlalu Bergantung pada Satu Platform

Ini adalah salah satu alasan paling penting.

Marketplace memang memberikan akses kepada jutaan calon pembeli, tetapi seller tetap beroperasi di dalam ekosistem milik pihak lain.

Aturan platform dapat berubah.

Biaya dapat berubah.

Algoritma dapat berubah.

Program promosi dapat berubah.

Persaingan juga dapat berubah.

Kemendag sendiri pada 2026 menerbitkan aturan baru terkait penyelenggaraan perdagangan melalui sistem elektronik melalui Permendag Nomor 19 Tahun 2026 yang mulai berlaku pada 8 Juni 2026. Pemerintah juga mendorong pelaku usaha yang berdagang melalui platform niaga elektronik untuk memperhatikan aspek legalitas dan daya saing.

Memiliki toko online sendiri tidak berarti seller bebas dari seluruh aturan atau tidak membutuhkan marketplace. Justru pendekatannya adalah membangun beberapa kanal sehingga bisnis memiliki struktur digital yang lebih beragam.

Toko Online Bisa Membantu Membangun Pelanggan Jangka Panjang

Ada perbedaan antara mendapatkan transaksi dan membangun pelanggan.

Transaksi pertama memang penting, tetapi bisnis akan lebih kuat jika pelanggan bersedia kembali membeli.

Toko online dapat digunakan untuk membangun hubungan tersebut melalui konten, katalog produk, program pelanggan, newsletter, WhatsApp Business, promo khusus, atau sistem membership yang sesuai dengan model bisnis.

Seller juga dapat mengembangkan halaman khusus untuk pelanggan lama.

Misalnya:

“Promo Pelanggan Setia”

atau

“Produk Terbaru Minggu Ini”

Dengan pendekatan tersebut, toko online tidak hanya mengejar transaksi pertama, tetapi ikut mendukung strategi retensi pelanggan.

Toko Online Bukan Berarti Harus Meninggalkan Marketplace

Ini kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Memiliki toko online sendiri bukan berarti seller harus berhenti menggunakan marketplace.

Justru strategi yang dapat digunakan adalah menggabungkan keduanya.

Marketplace dapat digunakan untuk:

  • Mendapatkan pelanggan baru.
  • Memanfaatkan traffic marketplace.
  • Mengikuti program promosi.
  • Menjangkau konsumen yang sudah terbiasa berbelanja di sana.

Sedangkan toko online dapat digunakan untuk:

  • Membangun brand.
  • Menampilkan katalog lengkap.
  • Menyediakan informasi bisnis.
  • Menjadi pusat konten.
  • Mendukung SEO.
  • Membangun hubungan dengan pelanggan.
  • Menjadi pusat berbagai kanal digital.

Dengan demikian, keduanya dapat saling melengkapi.

Toko Online Juga Membuka Peluang dari Google

Salah satu kelebihan memiliki website adalah peluang mendapatkan traffic dari mesin pencari.

Bayangkan seseorang mengetik:

“parfum wanita tahan lama”

atau

“sepatu running pria murah”

atau

“supplier pakaian Bandung”

Jika toko online seller memiliki halaman yang relevan dan teroptimasi dengan baik, website tersebut memiliki peluang untuk ditemukan melalui pencarian organik.

Ini berbeda dengan marketplace yang sangat bergantung pada sistem pencarian internal masing-masing platform.

Karena itu, seller yang serius membangun bisnis jangka panjang dapat mulai memikirkan SEO sejak awal.

Tidak harus langsung membuat ratusan artikel.

Mulai dari halaman produk yang lengkap, kategori yang jelas, informasi bisnis, FAQ, dan beberapa konten yang benar-benar menjawab pertanyaan calon pelanggan sudah dapat menjadi langkah awal.

Toko Online Membantu Bisnis Terlihat Siap Berkembang

Ada tahap ketika seller tidak lagi hanya menjual beberapa produk.

Produk bertambah.

Karyawan mulai bertambah.

Pelanggan semakin banyak.

Pesanan datang dari berbagai kanal.

Pada tahap tersebut, bisnis membutuhkan sistem yang lebih terstruktur.

Toko online dapat menjadi salah satu fondasi digital untuk perkembangan tersebut.

Website dapat dikembangkan secara bertahap menjadi katalog produk, sistem pemesanan, landing page, pusat informasi, blog, membership, hingga terhubung dengan berbagai sistem bisnis lainnya.

Artinya, seller tidak harus membuat semuanya sekaligus.

Yang penting adalah memiliki fondasi yang bisa dikembangkan.

Kesimpulan: Seller Jangan Hanya Punya Lapak, Bangun Aset Digital

Perkembangan ecommerce Indonesia menunjukkan bahwa pasar online masih memiliki peluang yang besar. Namun, persaingan juga semakin kompleks. Konsumen menemukan produk melalui marketplace, media sosial, video commerce, creator, mesin pencari, dan berbagai kanal lainnya.

Dalam kondisi seperti ini, toko online dapat menjadi salah satu aset penting bagi seller.

Marketplace tetap penting untuk mendapatkan transaksi dan pelanggan baru. Media sosial penting untuk membangun awareness dan mendistribusikan konten. Tetapi toko online dapat menjadi pusat yang menghubungkan berbagai aktivitas tersebut.

Jadi, pertanyaannya bukan lagi “Apakah seller harus memilih marketplace atau toko online?”

Pertanyaan yang lebih relevan adalah:

“Bagaimana marketplace, media sosial, dan toko online bisa bekerja bersama untuk membangun bisnis yang lebih kuat?”

Bagi seller yang ingin membangun bisnis untuk jangka panjang, memiliki toko online dapat menjadi langkah strategis untuk membangun brand, meningkatkan kepercayaan, mengembangkan SEO, dan menciptakan aset digital yang tidak hanya bergantung pada satu platform.